Pemkot Surabaya Telah Membangun 72 Bozem

suarasurabaya.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menambah pembangunan bozem yang tersebar di berbagai wilayah untuk mengantisipasi banjir. Hingga saat ini, total bozem yang telah dibangun sebanyak 72 dengan total luasan mencapai 147,5 hektare.

Erna Purnawati Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya mengatakan, dari 72 bozem itu 7 di antaranya dibangun di tahun 2019 ini. Yaitu Bozem Bundaran Pakuwon Trade Center (PTC) di Kelurahan Pradah Kali Kendal, Kecamatan Dukuh Pakis; Bozem Kosagra di Kelurahan Medokan, Ayu Kecamatan Rungkut; Bozem Sumberrejo Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Pakal; Bozem Rejosari, Kelurahan Pakal, Kecamatan Pakal; Bozem Bandarrejo Sememi, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo; Bozem Waru Gunung, Kelurahan Warugunung, Kecamatan Karang Pilang; dan Mini Bozem Tambakwedi, Kelurahan Tambakwedi, Kecamatan Kenjeran.

“Tujuh bozem itu sudah ada yang proses dikerjakan dan masih rencana dikerjakan. Yang sudah proses dikerjakan seperti Bozem Bundaran PTC dan Bandarrejo Sememi, sedangkan yang lima bozem lainnya akan dikerjakan selanjutnya,” kata Erna, Rabu (3/4/2019).

Menurut Erna, dengan penambahan tujuh bozem itu, berarti nantinya Pemkot Surabaya sudah membangun sebanyak 72 bozem dengan total luasan mencapai 147,5 hektare. Ia juga menjelaskan bahwa volume masing-masing bozem itu berbeda-beda, tergantung lahan yang tersedia. “Dari 72 bozem itu, bisa menampung air mencapai 6.164.889 meter kubik,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa lokasi-lokasi yang dipilih untuk membangun bozem itu bermacam-macam. Ada lahan yang sudah dibebaskan oleh Pemkot Surabaya, seperti lahan yang ada di bundaran PTC dan ada pula di fasum perumahan serta aset Marinir.

“Sekitar ada enam lahan yang tercatat aset marinir. Karena sudah diizinkan, meskipun di lahan Marinir kita garap untuk bozem,” kata dia.

Erna mengaku saat ini masyarakat sudah semakin sadar akan pentingnya bozem untuk menampung air pada saat hujan deras. Makanya, semakin banyak warga mengusulkan dan meminta supaya daerahnya dibangun bozem. Padahal, dulu banyak warga yang menolak pembangunan bozem itu karena berbagai alasan, termasuk alasan pembebasan tanah.

“Kalau sekarang sudah banyak yang sadar fungsi bozem. Malah sekarang ada warga yang meminta untuk dibuatkan jembatan dan gazebo di tengah-tengah bozem itu, sehingga bisa dijadikan tempat untuk memancing,” katanya.

Menurut Erna, pembangunan bozem-bozem itu dilakukan secara swakelola atau tidak melalui proses lelang. Sebab, ia menilai apabila dilelang akan memakan waktu panjang dan biayanya juga lumayan besar.

“Jadi, temen-temen garap sendiri. Alat beratnya pun kita bagi,” katanya.

Melalui cara ini, maka proses pengerjaan bozem itu bisa dipercepat. Bahkan, ia memperkirakan proses pengerjaannya hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan. “Apalagi, temen-temen garapnya hampir setiap hari, jadi bisa cepat diselesaikan,” ujarnya. (bid/ipg)Editor: Iping Supingah

Sumber : Kunjungi Sumber Berita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *