Ibunda Eri: Terima Kasih untuk Doa dan Penghargaannya

Pertandingan Persebaya melawan Madura United FC hari ini terasa begitu emosional. Selain bertepatan dengan Isra’ Mi’raj, tanggal 3 April juga bertepatan dengan 19 tahun meninggalnnya Eri Irianto. Untuk memperingati, Persebaya mengundang keluarga almarhum untuk hadir langsung di Gelora Bung Tomo.

”Saya berterima kasih kepada Persebaya yang masih perhatian dengan Eri,” kata ibu Eri Irianto, Musriatin. 

Musriatin datang bersama putra bungsunya, Nur Rochman. Juga beberapa keluarga dekat lain. Sebelum pertandingan, mereka diundang ke tepi lapangan. Menyaksikan tribute  Bonek untuk Eri. 

”Semoga Persebaya semakin jaya, Bonek semakin baik dan aman,” ucapnya.

Eri Irianto meninggal tepat 19 tahun lalu. Setelah kolaps saat membela Persebaya. Untuk mengenangnya, Bonek melakukan minute of silence pada menit ke-19.

”Suasana hari ini membuat saya senang dan deg-degan, mengingatkan saya saat saya masih sering ke stadion dulu,” kata Musriatin. 

Eri adalah anak kedua dari empat bersaudara. Tiga putra, seorang putri. Anak cowok Musriatin semua pesepak bola. Namun, hanya Eri yang menjadi pemain profesional. ”Saya dan kakak pertama saya hanya sampai kelas gala desa,” ungkap Nur Rohman. 

Menurut Nur Rohman, Eri bisa menjadi pemain Persebaya karena kerja keras yang luar biasa. Secara skill dia sebenarnya kalah dari kakak dan adiknya. ”Mas Eri dulu sampai kerja gosok pot atau kerja serabutan lain untuk dapat uang, agar bisa mengikuti kompetisi,” kenangnya.

Sahabat dekat almarhum sekaligus asisten pelatih Persebaya Bejo Sugiantoro juga ikut larut dalam peringatan 19 tahun kepergian. ”Hari ini jelas sangat spesial, jarang-jarang ada pertandingan yang bertepatan dengan hari meninggalnya almarhum, dan alhamdulillah tim bisa menang,” kata Bejo. ”Kita persembahkan kemenangan ini untuk tim dan Eri,” imbuhnya.

Pelatih yang juga salah satu legenda Persebaya ini mengaku terharu dengan aksi mengheningkan cipta pada menit ke-19. ”Doa dari lima puluh ribu penonton dan semua yang menyaksikan di televisi adalah salah satu bentuk penghormatan tertinggi untuk almarhum, Bonek lagi-lagi melakukan kegiatan yang sangat positif, terima kasih untuk semua yang sudah mendoakan,” ungkap Bejo.

Ketua Panpel Persebaya Whisnu Sakti Buana juga punya kenangan tersendiri kepada Eri. Saat dia masih aktif bermain, Whisnu masih menjadi Bonek, belum jadi pengurus Green Force.

”Tendangan geledeknya, kalau tendangan bebas kena pagar betis, pantulannya bisa dari kotak penalty sampai garis tengah lapangan,” kenangnya.

Whisnu bangga, Persebaya bersama Bonek bisa terus melakukan hal positif. Juga tak pernah lupa pada jasa para legendanya. (*)

 

Sumber : Kunjungi Sumber Berita

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *